Beberapa waktu yang lalu Indonesia baru saja menghadapi Thailand, dan akhirnya kalah. Sekarang Indonesia harus menghadapi MEA. Mungkinkah Indonesia akan kalah lagi? Oh, ini tidak bisa dibiarkan. Indonesia tentunya harus mempersiapkan diri.
Dengan berlakunya MEA, barang-barang dari luar akan bebas masuk ke Indonesia. Ya, itu memang berarti barang-barang dari Indonesia dapat masuk ke negara lain (ASEAN) secara bebas. Namun sanggupkah barang-barang dari Indonesia tersebut bersaing dengan produk luar bagi di dalam maupun di luar negeri?
Untuk memenangkan persaingan, Indonesia tentunya harus meningkatkan kualitas produk-produknya dan juga kualitas SDMnya. Kecintaan terhadap produk lokal juga harus ditingkatkan. Namun kembali lagi, untuk apa kita menggunakan produk lokal jika produk luar masih lebih baik.
Indonesia telah mulai meningkatkan kualitas produksinya. Contohnya lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan SDM, dan program ACI (Aku Cinta Indonesia). Jika ditanya apakah Indonesia sudah siap menghadapi MEA, maka jawabannya adalah belum. Ya, namanya juga masih persiapan....
Kamis, 24 November 2016
Selasa, 22 November 2016
Relevansi GNB Masa Kini
GNB atau Gerakan Non-Blok adalah suatu organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara yang menyatakan tidak beraliansi dengan blok kekuatan besar manapun. Diprakarsai oleh Indonesia, Yugoslavia, India, Ghana, dan Mesir. Bermula dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika yang diadakan di Bandung, Indonesia, pada tahun 1955, terbentuklah GNB atau Gerakan Non-Blok.
GNB memang masih ada sampai sekarang. Namun apakah keberadaan GNB masih berpengaruh pada masa sekarang? Tujuan awal terbentuknya GNB adalah untuk meredakan perang dingin. Walau akhirnya berkembang menjadi kerjasama antarbangsa di bidang lainnya.
Perang dingin telah berakhir pada tahun 1991, namun Gerakan Non-Blok masih ada sampai sekarang. Lalu untuk apa keberadaan GNB di saat Blok Barat dan Blok Timur sudah tidak ada lagi?
Kembali ke pengertian GNB sendiri. Sesuai namanya, GNB adalah sebuah gerakan yang tidak memihak kepada siapapun pihak yang sedang berseteru. Perang dingin antara blok barat dan timur memang sudah berakhir, namun itu tidak berarti tidak akan ada lagi pihak yang berseteru di dunia ini, dalam konteks ini negara atau kumpulan negara.
Lagipula, jika melihat prinsip-prinsip dasar yang diterapkan GNB kurang lebih isinya adalah mewujudkan dunia yang damai dan memajukan kesejahteraan.
Jadi, keberadaan GNB masih relevan untuk keadaan masa sekarang yang terjadi banyak tantangan global.
sumber
GNB memang masih ada sampai sekarang. Namun apakah keberadaan GNB masih berpengaruh pada masa sekarang? Tujuan awal terbentuknya GNB adalah untuk meredakan perang dingin. Walau akhirnya berkembang menjadi kerjasama antarbangsa di bidang lainnya.
Perang dingin telah berakhir pada tahun 1991, namun Gerakan Non-Blok masih ada sampai sekarang. Lalu untuk apa keberadaan GNB di saat Blok Barat dan Blok Timur sudah tidak ada lagi?
Kembali ke pengertian GNB sendiri. Sesuai namanya, GNB adalah sebuah gerakan yang tidak memihak kepada siapapun pihak yang sedang berseteru. Perang dingin antara blok barat dan timur memang sudah berakhir, namun itu tidak berarti tidak akan ada lagi pihak yang berseteru di dunia ini, dalam konteks ini negara atau kumpulan negara.
Lagipula, jika melihat prinsip-prinsip dasar yang diterapkan GNB kurang lebih isinya adalah mewujudkan dunia yang damai dan memajukan kesejahteraan.
Jadi, keberadaan GNB masih relevan untuk keadaan masa sekarang yang terjadi banyak tantangan global.
sumber
Selasa, 08 November 2016
Reformasi
Kita dapat mengartikan reformasi dengan memenggal katanya. Re, dalam beberapa bahasa dapat berarti perulangan, mengulang dan sejenisnya. Formasi, kata dasarnya "form" yang berarti membentuk, menata atau menyusun. Jadi reformasi dapat diartikan "Menata ulang" atau "Tatanan ulang". Jadi reformasi disini ada suatu bentuk peristiwa.
Telah terjadi beberapa bentuk reformasi di dunia, saya akan mengambil yang paling dekat dengan kita, reformasi 1998. Reformasi disini sering merujuk pada demo besar-besaran oleh para mahasiswa yang menuntut Soeharto untuk turun. Reformasi 1998 ditandai dengan turunnya Soeharto dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998, sehingga kekuasaan Orde Baru saat itu jatuh. Habibie pun menggantikan Soeharto sebagai presiden.
Habibie mewarisi kondisi negara yang kacau. Kasian ya? Tapi, Pak Habibie berhasil kok mengeluarkan Indonesia dari kekacauan waktu itu. Ya, kira-kira itulah yang dibahasakan orang-orang sebagai "Reformasi".
Dampak Reformasi
Setiap peristiwa pasti menghasilkan dampak tertentu, baik positif maupun negatif..
Sisi positif dari Reformasi salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Jika pada masa Orde Baru kebebasan berpendapat sangat dibatasi, pada pemerintahan Habibie, orang-orang bisa kembali bebas untuk berpendapat. Bukti kongkritnya adalah diselenggarakannya pemilu pada 1999.
Sebagai imbasnya adalah kebebasan yang kelewatan. Karena sudah dibebaskan untuk berpendapat, beberapa orang menanggapinya dengan berlebihan, sehingga timbul berbagai kekacauan. Bisa kita ambil contoh konflik-konflik yang terjadi di Maluku, Poso, Sambas, dan Sampit.
Bagi orang-orang yang masih normal kebebasan berpendapat memang suatu kebutuhan. Apa jadinya negara demokrasi tanpa kebebasan berpendapat? Namun jika kebebasan tersebut jatuh ke tangan yang salah, kekacauan akan menjadi suatu hal yang pasti.Jadi, boleh bebas, asal jangan bablas!
Langganan:
Komentar (Atom)