Pada suatu sore yang tidak cerah,
seusai menikmati ibadah salat asar, saya bersadar pada tembok dan memandangi
sekitar. Hmm, tak ada yang spesial sore ini, gumam saya. Namun ternyata tidak
demikian. Ada sesuatu yang tak biasa memantulkan cahaya mentari yang redup
menuju kedua bola mata saya. Dan sepertinya dia pun merasakan hal yang sama.
Inikah yang dinamakan cinta? Sosok itupun mendekatiku dan menyalamiku. Dan kawan
lama pun bertemu di tengah mendungnya sore.
Berbasa-basi dan menanyakan kabar tentu
merupakan hal yang biasa dan tidak asik untuk diceritakan, karena kami memang
tidak melakukan hal itu. Karena kami adalah orang-orang yang asik. Entah
bagaimana caranya dia bisa langsung memulai pembicaraan dengan menceritakan kehidupan
barunya, di kampus barunya, yang tentu saja berbeda dengan saya.
Dia bercerita bahwa kehidupan di
kampus barunya ini sangat tidak kondusif, sangat berbeda dengan kehidupan
lamanya (red : kehidupan SMA-nya). Dia bercerita di kampus barunya, khususnya
di angkatannya, mahasiswanya terbagi menjadi dua golongan. Golongan anak-anak
olimpiade dan anak-anak non-olimpiade. Pada awalnya anak-anak olimpiade
terlihat sangat superior. Dia yang bukan anak olimpiade menyadari kemampuannya
kurang dan tentu saja berusaha mengejarnya. Dan dia berhasil.
Keberhasilan tentunya merupakan
hal yang baik. Namun tidak demikian bagi teman-temannya –sebagian
teman-temannya--. Mereka menganggap itu sebagai sebuah kecurangan. Mereka
menilai kawanku ini sebagai anak yang terlalu ambisius. Contohnya seperti ini,
kawanku berhasil mengerjakan suatu soal yang tidak dapat dikerjakan kebanyakan
temannya. Dan ternyata materi untuk soal tersebut memang baru ada di semester
yang lebih lanjut. Lalu beberapa temannya menyalahkannya karena sudah
mengetahui materi tersebut.
Bukannya meminta diajari kok
malah menyalahkan. Ingat, tidak semua temannya melakukan hal-hal tersebut,
bahkan mungkin hanya satu orang. Kalau nggak tau ya tanya dong. Kebersamaan itu
memang penting, sangat penting, karena bersamamu semuanya akan terasa lebih
indah. Namun sangat disayangkan jika kebersamaan itu bukan dalam kebaikan. Jangan
pula menjadi baik namun sendirian. Jika kamu baik, bawalah teman-temanmu menuju
kebaikan pula. Juga jangan halangi temanmu untuk berbuat kebaikan, siapa tau
nanti kamu diajak.
Dia juga menceritakan bahwa
sebagian teman-temannya merasa kesulitan di matkul-matkul dasar, seperti fisika
dan kimia. Padahal itu masih sangat dasar. Masih lebih susah soal SBMPTN tahun
kemaren coy. Ya mungkin mereka merasakan vakum selama 3 bulan lebih dan tidak
belajar sama sekali, sehingga besar kemungkinan materi-materi tersebut sudah
terlupa. Apalagi bagi yang masuk melalui jalur SNMPTN. Lalu saya teringat suatu
daerah di Indonesia yang 3 SMP-nya masuk peringkat 10 besar nasional untuk
nilau Ujian Nasional. Tapi untuk SMA-nya? Turun ke peringkat belasan. Apa
mungkin ada yang salah pada sistem pendidikan di daerah tersebut? Atau mungkin
anak-anaknya yang salah? Atau anak-anaknya pindah ke daerah lain? Atau anak-anaknya
pada nikah muda?
Kan lagi rame tuh sekarang kayak
begituan. Daripada pacaran mending nikah aja, daripada terjebak zina gitu kan?
Daripada kalau pacaran malah ngelakuin yang nggak-nggak? Mending nikah aja kan?
Hayo. Banyak juga ditemui anak-anak baru lulus SMA udah nikah aja. Kuliah sambil bawa istri, sambil bawa anak.
Sampe bikin dosennya iri. Jadi keinget masa kecilku dulu. Lho? Apa yang
terjadi?
Nikah itu emang asik, kawan.
Siapa sih yang nggak mau nikah? Ya ada sih. Coba tanya ayah kalian masing-masing.
Kalau ternyata jawabannya mau, segera kabarkan kepada ibumu, kawan. Nikah tetep
aja asik, kok. Tapi ternyata nikah tidak semudah itu, kawan. Nikah itu mahal
coy. Habis nikahnya maksud saya. Kalau sekarang bisa tenang ngekos sendiri,
masa habis nikah mau tidur beda atap. Saya nggak pernah nemuin sih ada kost
putra-putri digabung gitu. Kecuali ya, kalau nikahnya… ya gitu deh.
Ya yang pasti harus cari tempat
bernaung yang baru, kan. Sayang-sayang udah nikah ngobrolnya mesti lewat hape.
Ya kalau punya. Habis itu dua orang yang udah nikah tadi harus bekerja sama
untuk mengurusi satu manusia lagi. Ya itu kalau nikahnya bener sih. Sesuai
syariat gitu. Dan ngurusin manusia itu butuh duit coy. Ya baguslah kalau emang
udah punya penghasilan sendiri. Tapi kalau belum? Pacaran yang ngurusin dua
orang aja udah nyusahin orangtua, apalagi yang tiga orang, bahkan lebih. Ya
mungkin orangtuanya bakal seneng-seneng aja sih ngurusin cucunya. Sambil
nginget-inget anaknya waktu masih bayi dulu. Masih lucu, nggak kayak sekarang.
Makanya dia disuruh nikah aja.
Lah kenapa malah jadi ngomongin
nikah?
Kawanku ini juga merisaukan
kehidupan berorganisasi di sana. Tak jarang kegiatan yang harus dia ikuti mesti
menembus batas ruang dan waktu untuk beribadah. Dia merasa memang alur waktunya
sudah diatur sedemikian rupa, padahal menurutnya ada pembagian waktu yang lebih
baik. Biar nggak harus nimbus-nembus gitu.
Ya memang beberapa sholat
memiliki toleransi waktu yang cukup panjang. Namun mengapa ada kegiatan yang
dimulai beberapa saat sebelum memasuki waktu sholat tersebut. Baru mulai
kegiatan bentar eh udah azan aja. Kenapa nggak sekalian habis sholat aja. Takut
selesainya lebih lama? Kalau emang lama
ya mending sholat dulu biar aja. Udah kegiatannya lama, pulang-pulang capek, eh
ketiduran. Lupa deh sama sholatnya.
Kawanku ini kalau lagi cerita
biasanya nggak nyantai coy. Emosional banget. Sampe saya nggak dapet kesempatan
ngomong. Pokoknya, dia ngerasa kehidupan di kampus barunya itu (agak) nggak
ideal. Dan tentu saja dia pengen itu semua berubah. Bahkan dia sampai berpikir
untuk mengajak teman-temannya dari jenjang pendidikan sebelumnya (red : SMA)
untuk menguasai kampus tersebut. Wew gaya banget ya. Karena menurutnya
kehidupannya yang dahulu sangatlah kondusif, nggak kayak sekarang. Dan hanya
teman-temannya itu yang mengerti definisi kondusif yang sama dengan dirinya.
Tapi bukannya kalau gitu malah
bisa bikin isu nepotisme? –Akhirnya saya dapat kesempatan ngomong--. Terus juga
untuk mengubah semua itu dibutuhkan waktu yang nggak sebentar. Biasa banget ya
kata-kata kayak gini. Saya pernah dibilangin kayak gini, “Kalau kamu masuk ke
suatu tempat dan kamu merasa sistem di sana tidak ideal, dan kamu ingin
mengubahnya. Yang harus kamu lakukan adalah ikuti sistemnya, walaupun kamu
nggak suka. Tempati posisi yang strategis, lalu ubah sistemnya.”
Hal itu tentunya sulit untuk
dilakukan. Orang ngomongnya saja enak, dan ndengerinnya enak juga sih. Tapi
ternyata tidak semudah itu, kawan. Karena hampir dapat dipastikan akan banyak yang
menentang gagasan untuk mengubah sistem tersebut. Udah susah-susah dibuat dan
dijalanin bertahun-tahun, enak aja kamu baru masuk bentar terus punya jabatan
mau ngubah-ngubah.
Tentunya doktrin-doktrin dari
para pendahulu masih membekas di pikiran kebanyakan orang. Dan yang bisa kamu
doktrin dengan gagasanmu adalah orang-orang yang baru saja masuk. Tapi ingat,
bukan hanya kamu saja yang bisa mendoktrin mereka. Ya mungkin ada dikit-dikit
lah yang nyantol sama pemikiranmu. Tapi mayoritas masih berpihak pada gagasan
lama. Ya mungkin aja pemeluk gagasan baru bisa berangsur-angsur meningkat. Tapi
itu lama banget coy. Lamaaa banget. Kayak ceritanya kawanku ini yang nggak
selesai-selesai.
Sore pun semakin larut. Tapi
mulutnya masih belum kelihatan capek buat cerita. Daripada kelamaan, saya pun
mengeluarkan teknik jitu , “Eh, kamu nggak ada urusan apa-apa habis ini?”. Dan
ternyata memang benar seharusnya sekarang dia berada di tempat lain. Pada
akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkanku. Saat aku baru saja ingin
mengatakan, “Kawan, kita memiliki keresahan yang sama.”
.
.
.
.
Nggak deng, di tempatku masih
mendingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar