Selasa, 29 Januari 2019

Pada Suatu Sore

Pada suatu sore yang tidak cerah, seusai menikmati ibadah salat asar, saya bersadar pada tembok dan memandangi sekitar. Hmm, tak ada yang spesial sore ini, gumam saya. Namun ternyata tidak demikian. Ada sesuatu yang tak biasa memantulkan cahaya mentari yang redup menuju kedua bola mata saya. Dan sepertinya dia pun merasakan hal yang sama. Inikah yang dinamakan cinta? Sosok itupun mendekatiku dan menyalamiku. Dan kawan lama pun bertemu di tengah mendungnya sore.

Berbasa-basi dan menanyakan kabar tentu merupakan hal yang biasa dan tidak asik untuk diceritakan, karena kami memang tidak melakukan hal itu. Karena kami adalah orang-orang yang asik. Entah bagaimana caranya dia bisa langsung memulai pembicaraan dengan menceritakan kehidupan barunya, di kampus barunya, yang tentu saja berbeda dengan saya.

Dia bercerita bahwa kehidupan di kampus barunya ini sangat tidak kondusif, sangat berbeda dengan kehidupan lamanya (red : kehidupan SMA-nya). Dia bercerita di kampus barunya, khususnya di angkatannya, mahasiswanya terbagi menjadi dua golongan. Golongan anak-anak olimpiade dan anak-anak non-olimpiade. Pada awalnya anak-anak olimpiade terlihat sangat superior. Dia yang bukan anak olimpiade menyadari kemampuannya kurang dan tentu saja berusaha mengejarnya. Dan dia berhasil.

Keberhasilan tentunya merupakan hal yang baik. Namun tidak demikian bagi teman-temannya –sebagian teman-temannya--. Mereka menganggap itu sebagai sebuah kecurangan. Mereka menilai kawanku ini sebagai anak yang terlalu ambisius. Contohnya seperti ini, kawanku berhasil mengerjakan suatu soal yang tidak dapat dikerjakan kebanyakan temannya. Dan ternyata materi untuk soal tersebut memang baru ada di semester yang lebih lanjut. Lalu beberapa temannya menyalahkannya karena sudah mengetahui materi tersebut.

Bukannya meminta diajari kok malah menyalahkan. Ingat, tidak semua temannya melakukan hal-hal tersebut, bahkan mungkin hanya satu orang. Kalau nggak tau ya tanya dong. Kebersamaan itu memang penting, sangat penting, karena bersamamu semuanya akan terasa lebih indah. Namun sangat disayangkan jika kebersamaan itu bukan dalam kebaikan. Jangan pula menjadi baik namun sendirian. Jika kamu baik, bawalah teman-temanmu menuju kebaikan pula. Juga jangan halangi temanmu untuk berbuat kebaikan, siapa tau nanti kamu diajak.

Dia juga menceritakan bahwa sebagian teman-temannya merasa kesulitan di matkul-matkul dasar, seperti fisika dan kimia. Padahal itu masih sangat dasar. Masih lebih susah soal SBMPTN tahun kemaren coy. Ya mungkin mereka merasakan vakum selama 3 bulan lebih dan tidak belajar sama sekali, sehingga besar kemungkinan materi-materi tersebut sudah terlupa. Apalagi bagi yang masuk melalui jalur SNMPTN. Lalu saya teringat suatu daerah di Indonesia yang 3 SMP-nya masuk peringkat 10 besar nasional untuk nilau Ujian Nasional. Tapi untuk SMA-nya? Turun ke peringkat belasan. Apa mungkin ada yang salah pada sistem pendidikan di daerah tersebut? Atau mungkin anak-anaknya yang salah? Atau anak-anaknya pindah ke daerah lain? Atau anak-anaknya pada nikah muda?

Kan lagi rame tuh sekarang kayak begituan. Daripada pacaran mending nikah aja, daripada terjebak zina gitu kan? Daripada kalau pacaran malah ngelakuin yang nggak-nggak? Mending nikah aja kan? Hayo. Banyak juga ditemui anak-anak baru lulus SMA udah nikah aja.  Kuliah sambil bawa istri, sambil bawa anak. Sampe bikin dosennya iri. Jadi keinget masa kecilku dulu. Lho? Apa yang terjadi?

Nikah itu emang asik, kawan. Siapa sih yang nggak mau nikah? Ya ada sih. Coba tanya ayah kalian masing-masing. Kalau ternyata jawabannya mau, segera kabarkan kepada ibumu, kawan. Nikah tetep aja asik, kok. Tapi ternyata nikah tidak semudah itu, kawan. Nikah itu mahal coy. Habis nikahnya maksud saya. Kalau sekarang bisa tenang ngekos sendiri, masa habis nikah mau tidur beda atap. Saya nggak pernah nemuin sih ada kost putra-putri digabung gitu. Kecuali ya, kalau nikahnya… ya gitu deh.

Ya yang pasti harus cari tempat bernaung yang baru, kan. Sayang-sayang udah nikah ngobrolnya mesti lewat hape. Ya kalau punya. Habis itu dua orang yang udah nikah tadi harus bekerja sama untuk mengurusi satu manusia lagi. Ya itu kalau nikahnya bener sih. Sesuai syariat gitu. Dan ngurusin manusia itu butuh duit coy. Ya baguslah kalau emang udah punya penghasilan sendiri. Tapi kalau belum? Pacaran yang ngurusin dua orang aja udah nyusahin orangtua, apalagi yang tiga orang, bahkan lebih. Ya mungkin orangtuanya bakal seneng-seneng aja sih ngurusin cucunya. Sambil nginget-inget anaknya waktu masih bayi dulu. Masih lucu, nggak kayak sekarang. Makanya dia disuruh nikah aja.

Lah kenapa malah jadi ngomongin nikah?

Kawanku ini juga merisaukan kehidupan berorganisasi di sana. Tak jarang kegiatan yang harus dia ikuti mesti menembus batas ruang dan waktu untuk beribadah. Dia merasa memang alur waktunya sudah diatur sedemikian rupa, padahal menurutnya ada pembagian waktu yang lebih baik. Biar nggak harus nimbus-nembus gitu.

Ya memang beberapa sholat memiliki toleransi waktu yang cukup panjang. Namun mengapa ada kegiatan yang dimulai beberapa saat sebelum memasuki waktu sholat tersebut. Baru mulai kegiatan bentar eh udah azan aja. Kenapa nggak sekalian habis sholat aja. Takut selesainya lebih lama?  Kalau emang lama ya mending sholat dulu biar aja. Udah kegiatannya lama, pulang-pulang capek, eh ketiduran. Lupa deh sama sholatnya.

Kawanku ini kalau lagi cerita biasanya nggak nyantai coy. Emosional banget. Sampe saya nggak dapet kesempatan ngomong. Pokoknya, dia ngerasa kehidupan di kampus barunya itu (agak) nggak ideal. Dan tentu saja dia pengen itu semua berubah. Bahkan dia sampai berpikir untuk mengajak teman-temannya dari jenjang pendidikan sebelumnya (red : SMA) untuk menguasai kampus tersebut. Wew gaya banget ya. Karena menurutnya kehidupannya yang dahulu sangatlah kondusif, nggak kayak sekarang. Dan hanya teman-temannya itu yang mengerti definisi kondusif yang sama dengan dirinya.

Tapi bukannya kalau gitu malah bisa bikin isu nepotisme? –Akhirnya saya dapat kesempatan ngomong--. Terus juga untuk mengubah semua itu dibutuhkan waktu yang nggak sebentar. Biasa banget ya kata-kata kayak gini. Saya pernah dibilangin kayak gini, “Kalau kamu masuk ke suatu tempat dan kamu merasa sistem di sana tidak ideal, dan kamu ingin mengubahnya. Yang harus kamu lakukan adalah ikuti sistemnya, walaupun kamu nggak suka. Tempati posisi yang strategis, lalu ubah sistemnya.”

Hal itu tentunya sulit untuk dilakukan. Orang ngomongnya saja enak, dan ndengerinnya enak juga sih. Tapi ternyata tidak semudah itu, kawan. Karena hampir dapat dipastikan akan banyak yang menentang gagasan untuk mengubah sistem tersebut. Udah susah-susah dibuat dan dijalanin bertahun-tahun, enak aja kamu baru masuk bentar terus punya jabatan mau ngubah-ngubah.

Tentunya doktrin-doktrin dari para pendahulu masih membekas di pikiran kebanyakan orang. Dan yang bisa kamu doktrin dengan gagasanmu adalah orang-orang yang baru saja masuk. Tapi ingat, bukan hanya kamu saja yang bisa mendoktrin mereka. Ya mungkin ada dikit-dikit lah yang nyantol sama pemikiranmu. Tapi mayoritas masih berpihak pada gagasan lama. Ya mungkin aja pemeluk gagasan baru bisa berangsur-angsur meningkat. Tapi itu lama banget coy. Lamaaa banget. Kayak ceritanya kawanku ini yang nggak selesai-selesai.

Sore pun semakin larut. Tapi mulutnya masih belum kelihatan capek buat cerita. Daripada kelamaan, saya pun mengeluarkan teknik jitu , “Eh, kamu nggak ada urusan apa-apa habis ini?”. Dan ternyata memang benar seharusnya sekarang dia berada di tempat lain. Pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkanku. Saat aku baru saja ingin mengatakan, “Kawan, kita memiliki keresahan yang sama.”
.
.
.
.
Nggak deng, di tempatku masih mendingan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar