Kebudayaan-kebudayaan di negeri kita ini kebanyakan memang dipengaruhi oleh agama, tak terkecuali Islam. Islam sudah memengaruhi banyak kebudayaan di Indonesia melalui Wali Songonya.
Kenapa saya memilih Jogja? Karena Jogja merupakan tempat kelahiran saya. Tempat tinggal saya. Tempat pertama kali saya melihat. Tempat pertama kali saya menangis. Tempat pertama kali saya menjejakkan kaki. Apa lagi ya? Banyak, deh.
Bicara soal kebudayaan, kata orang- orang Jogja ini emang jagonya soal budaya -Sejago K**F****C dengan ayamnya- termasuk kebudayaan Islam. Ironisnya banyak orang Jogja sendiri yang cuma tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali dan tidak peduli, termasuk saya.
Kebudayaan di Jogja yang bener-bener terkait dengan Islam yang saya tahu paling-paling cuma dua, yaitu Grebeg dan Sekaten. Dua-duanya sama-sama untuk memeringati kelahiran Rasulullah saw. Atau jangan-jangan adanya emang cuma dua itu saja?
Grebeg biasanya dilaksanakan pada pagi menjelang siang. Jarang sekali dilaksanakan di malam hari apalagi di mata hari, bisa-bisa gosong. Sebenernya lebih tepat untuk membicarakan Sekaten terlebih dahulu.
Sekaten dilaksanakan selama 7 hari berurut-urut -tanggal 5-11 Mulud (Rabiul Awal)-, di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Bagaimana pembukaannya dan penutupannya saya kurang tahu. Setiap kali jalan-jalan ke Alun-alun pasti udah mulai aja. Balik lagi, eh udah selesai.
Habis Sekaten, terbitlah Grebeg. Seperti yang sudah dikatakan tadi, Grebeg biasanya dilaksanakan pada pagi menjelang siang kira-kira pukul 3 pagi waktu GMT, atau 10 pagi waktu setempat. Bagaimana awal dan akhirnya tidak diketahui, karena saya gak pernah ikut-ikutan. Taunya paling-paling cuma, ada gunungan isinya hasil panen terus direbutin orang, udah habis, selesai semua pulang, tapi tidak semua senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar